WFH bagi ASN: Siapa Diuntungkan, dan Siapa Dirugikan?
- account_circle Redaktur Kanal Jabar
- calendar_month Senin, 23 Mar 2026
- visibility 73
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Alternatif yang Lebih Tegas
Melihat potensi celah tersebut, sejumlah pengamat mendorong pemerintah untuk tidak semata mengandalkan WFH bagi ASN sebagai solusi penghematan energi.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengingatkan agar kebijakan ini dikaji secara menyeluruh sebelum diterapkan secara luas.
“Jangan sampai kebijakan ini memberikan manfaat penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain justru menanggung biaya yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menilai, langkah yang lebih efektif justru terletak pada pembenahan distribusi subsidi energi.
“Terapkan kebijakan pembatasan subsidi BBM. BBM subsidi hanya untuk sepeda motor dan angkutan barang maupun orang.
Di luar itu, kendaraan pribadi harus menggunakan BBM non-subsidi,” tegasnya.
Menurut Fahmy, pendekatan tersebut lebih terukur karena langsung menyasar sumber konsumsi, bukan sekadar mengandalkan perubahan perilaku.
Bahkan, potensi penghematan dari kebijakan ini diperkirakan bisa mencapai ratusan triliun rupiah per tahun—jauh melampaui estimasi penghematan dari WFH yang masih bersifat asumsi awal.
Kebijakan di Persimpangan
Pada akhirnya, kebijakan WFH bagi ASN berada di persimpangan antara niat baik dan tantangan implementasi.
Di satu sisi, pemerintah membutuhkan langkah cepat untuk merespons tekanan energi global. Namun di sisi lain, kebijakan ini menyentuh banyak sektor dengan dampak yang tidak sederhana.
Tanpa desain yang presisi dan pengawasan ketat, WFH berisiko menjadi kebijakan yang timpang—menguntungkan sebagian, tetapi membebani yang lain.
Dan jika itu terjadi, pertanyaan publik akan tetap sama: ini solusi, atau sekadar ilusi? (4i)
- Penulis: Redaktur Kanal Jabar

Saat ini belum ada komentar