Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Nasional » Serbuan Barang Impor Mengguncang Pasar Indonesia

Serbuan Barang Impor Mengguncang Pasar Indonesia

  • account_circle adminkanaljabar
  • calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
  • visibility 215
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

kanaljabar.com BERITA NASIONAL Tahun 2025 belum juga mencapai garis tengah. Namun, Indonesia—negeri agraris-maritim yang sering dibanggakan sebagai kaya sumber daya—kembali kebanjiran tamu dari luar negeri. Mereka datang bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai barang impor. Dan seperti biasa, semuanya dibayar lunas.

Dari setrika pintar beraksen Mandarin, bantal aromaterapi asal Thailand, hingga pakaian olahraga buatan Vietnam yang lebih sering nongkrong di kafe ketimbang di lapangan, produk impor kini dengan santainya memenuhi rak marketplace dan pusat perbelanjaan nasional.

Terjadi kenaikan pada bahan baku dan barang modal

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Juni 2025 mencatat, nilai impor Indonesia sepanjang Januari–April 2025 mencapai US$76,29 miliar atau sekitar Rp1.220 triliun. Angka ini meningkat 6,27% dibanding periode yang sama tahun lalu. Yang menarik—sekaligus mengkhawatirkan—kenaikan tak hanya terjadi pada bahan baku dan barang modal, tetapi juga barang konsumsi, yang melonjak 7,68%, dari US$6,92 miliar menjadi US$7,45 miliar.

Jika dulu impor identik dengan mesin berat dan teknologi tinggi, kini ceritanya berbeda. Data BPS menunjukkan bahwa barang-barang sederhana seperti baju tidur, cermin LED, hingga dispenser telur—produk yang sejatinya bisa dibuat oleh industri kecil atau bahkan siswa SMK—ikut masuk daftar impor.

Lonjakan besar di suku cadang kendaraan

Lonjakan paling mencolok terjadi pada kendaraan dan suku cadangnya, yang meningkat 31,01% hanya dalam empat bulan, dari US$2,63 miliar menjadi US$3,45 miliar. Ironisnya, di saat yang sama, bengkel-bengkel kecil di daerah justru kesulitan mendapatkan onderdil yang sesuai, baik karena harga yang melonjak maupun ketidakcocokan dengan teknologi “mobil pintar” buatan luar negeri.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tiongkok kembali menjadi pemasok utama impor Indonesia. Sepanjang Januari–April 2025, nilai impor dari Negeri Tirai Bambu mencapai US$25,77 miliar, mencakup mesin, elektronik, hingga kendaraan. Tanpa terasa, Tiongkok menjelma menjadi “pabrik raksasa” yang menopang denyut konsumsi rumah tangga Indonesia.

Gaya hidup modern berperan besar pada barang luar

Di sisi lain, masyarakat atas nama digitalisasi dan gaya hidup berlomba membeli tisu wajah beraroma lavender dari Korea, sambil melupakan kain tenun lokal atau sabun produksi tetangga sendiri. Mencintai produk dalam negeri rupanya kalah menarik dibanding sensasi unboxing barang impor di media sosial.

Masuknya barang konsumsi impor yang tidak strategis membawa dampak berlapis. UMKM terdesak karena kalah harga dan skala produksi. Lapangan kerja tergerus akibat industri lokal yang sulit tumbuh. Defisit dagang bilateral, seperti dengan Tiongkok yang mencapai -US$6,9 miliar, terus berulang dan membebani perekonomian.

Lebih jauh lagi, ketika anak muda bangga mengenakan hoodie “original import” namun tak mengenal produsen tekstil di kotanya sendiri, sesungguhnya kita sedang kehilangan arah dalam membangun kemandirian ekonomi.

Membanjirnya produk impor—dan sambutan hangat masyarakat terhadapnya—ibarat menggali lubang bagi produk dalam negeri sendiri. Ini bukan lagi penjajahan dengan senjata, melainkan imperialisme ekonomi gaya baru: lewat diskon, free ongkir, dan pengaruh media sosial.

Bangsa besar tidak diukur dari seberapa banyak barang luar yang mampu dibeli, melainkan dari seberapa kuat ia berdiri di atas kakinya sendiri. Jika konsumsi dibiarkan tanpa kendali, Indonesia berisiko kehilangan bukan hanya identitas produksi, tetapi juga kedaulatan ekonominya—perlahan, halus, dan terstruktur. (ai)

  • Penulis: adminkanaljabar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Unigal Jadi Indikator dan Fasilitator, Pj Bupati Ciamis Lepas Peserta KKN

    Unigal Jadi Indikator dan Fasilitator, Pj Bupati Ciamis Lepas Peserta KKN

    • calendar_month Kamis, 30 Jan 2025
    • account_circle adminkanaljabar
    • visibility 224
    • 0Komentar

    kanaljabar.com BERITA CIAMIS Universitas Galuh (Unigal) Ciamis sebagai salah satu perguruan tinggi strategis berperan penting sebagai indikator dan fasilitator dalam mengatasi berbagai permasalahan kompleks, khususnya di tingkat desa. Hal ini disampaikan Pj. Bupati Ciamis, Budi Waluya, saat melepas 508 peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Galuh Ciamis Tahun 2024/2025 di Halaman Pendopo Ciamis, Kamis (30/01/2025). […]

  • Tasikmalaya: Tumpukan Sampah Pasca Lebaran Kembali Menggunung

    Tasikmalaya: Tumpukan Sampah Pasca Lebaran Kembali Menggunung

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Redaktur Kanal Jabar
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Kanal Jabar, BERITA TASIKMALAYA – Fenomena tumpukan sampah pasca Lebaran kembali menjadi sorotan di Kota Tasikmalaya. Sejumlah ruas jalan utama dilaporkan dipenuhi sampah yang meluber hingga ke badan jalan, bahkan mengganggu aktivitas lalu lintas warga. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di kawasan Jalan RE Martadinata. Di lokasi ini, sampah tidak hanya menumpuk di […]

  • Sampah Menumpuk di Pasar Pancasila, Dinas LH  Dinilai Lamban

    Sampah Menumpuk di Pasar Pancasila, Dinas LH Dinilai Lamban

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Redaktur Kanal Jabar
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Kanal Jabar, BERITA TASIKMALAYA – Penumpukan sampah selama lima hari di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Pancasila, Kota Tasikmalaya, memicu keluhan luas dari warga dan pedagang. Tumpukan sampah meluber hingga ke kios dan badan jalan, disertai bau menyengat yang mengganggu aktivitas ekonomi dan kenyamanan lingkungan. Ironisnya, respons resmi dari Dinas Lingkungan Hidup (LH) baru muncul […]

  • Selat Hormuz Lumpuh! Konflik Timur Tengah Memanas dan Harga Minyak Melonjak

    Selat Hormuz Lumpuh! Konflik Timur Tengah Memanas dan Harga Minyak Melonjak

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Redaktur Kanal Jabar
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Kanal Jabar, BERITA INTERNASIONAL – Konflik Timur Tengah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya setelah Iran meningkatkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan jaringan transportasi di kawasan Teluk pada Rabu (11/3/2026). Serangan tersebut dilaporkan menargetkan sejumlah kapal komersial serta area sekitar Bandara Internasional Dubai. Aksi ini terjadi di tengah gelombang serangan udara yang terus dilancarkan oleh […]

  • Ketika Kominfo Digabung, Arah Digital Tasikmalaya Dipertaruhkan

    Ketika Kominfo Digabung, Arah Digital Tasikmalaya Dipertaruhkan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Redaktur Kanal Jabar
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Kanal Jabar, BERITA TASIKMALAYA – Keputusan untuk menggabungkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Dinas Perhubungan (Dishub) di Kabupaten Tasikmalaya bukan sekadar soal restrukturisasi birokrasi. Lebih dari itu, kebijakan ini menyentuh jantung transformasi pemerintahan di era digital. Dalam konteks Peran Kominfo dalam Pemerintah Daerah, langkah tersebut patut dipertanyakan: apakah ini strategi efisiensi yang cerdas, atau […]

  • Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

    Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Redaktur Kanal Jabar
    • visibility 185
    • 0Komentar

    kanaljabar, EDITORIAL– Perguruan tinggi bukan sekadar tempat seseorang mengejar gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, nalar, etika, dan kepemimpinan. Dari ruang inilah lahir calon-calon profesional, birokrat, pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, bahkan pengambil kebijakan publik di masa depan. Karena itu, proses masuk ke perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai urusan administratif semata. Penerimaan mahasiswa […]

expand_less