Berita Jabar

Revitalisasi Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya: Apa yang Sebenarnya Berubah di Sekolah?

Kanal Jabar, BERITA TASIKMALAYA – Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya kembali menjadi perhatian publik. Bukan karena polemik angka kelulusan atau perdebatan kebijakan, melainkan karena dampaknya yang mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Pada puncak peringatan HUT PGRI ke-80 tingkat Kabupaten Tasikmalaya, pemerintah daerah meresmikan Program Revitalisasi Pendidikan, sebuah langkah strategis untuk menjawab persoalan mendasar dunia pendidikan.

Acara peresmian digelar di Lapangan Kecamatan Manonjaya, dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Atip Latipulhayat, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin, serta Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al-Ayubi. Kehadiran pejabat pusat dan daerah menegaskan bahwa revitalisasi pendidikan ini merupakan bagian dari sinergi kebijakan nasional dan implementasi di tingkat daerah.

Namun bagi warga, makna utama program ini bukan terletak pada seremoni atau daftar tamu kehormatan, melainkan pada perubahan nyata yang akan dirasakan anak-anak di sekolah.

Menjawab Masalah Klasik Infrastruktur Sekolah

Selama bertahun-tahun, pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya kerap dihadapkan pada persoalan infrastruktur. Ruang kelas dengan atap bocor, lantai rusak, serta fasilitas sanitasi yang tidak layak masih ditemukan di sejumlah sekolah, terutama di wilayah pinggiran. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa.

Melalui program revitalisasi pendidikan, pemerintah daerah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak. Bupati Tasikmalaya menegaskan bahwa penguatan sektor pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika diwujudkan dalam program yang menyentuh kebutuhan paling dasar sekolah.

Bagi orang tua, sekolah yang aman berarti rasa tenang saat melepas anak belajar. Tidak ada lagi kekhawatiran anak belajar dalam kondisi gedung yang rawan. Sementara bagi guru, lingkungan belajar yang nyaman memberi ruang untuk fokus mengajar, bukan sibuk mengatasi persoalan teknis bangunan.

Dari Pendidikan Usia Dini hingga Pemerataan Wilayah

Salah satu pesan penting dari peluncuran revitalisasi pendidikan terlihat saat rombongan pejabat meninjau TK Mawar di Desa Cihaur. Kunjungan ini menegaskan bahwa program revitalisasi tidak hanya menyasar sekolah besar atau kawasan perkotaan, tetapi juga dimulai dari pendidikan usia dini di desa.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam mendukung kebijakan nasional. Ia menekankan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar pemerataan kualitas pendidikan benar-benar terwujud, bukan sekadar slogan.

Bagi masyarakat, keberhasilan revitalisasi pendidikan akan diukur dari sejauh mana sekolah-sekolah di kecamatan dan desa memperoleh perlakuan yang setara dengan sekolah di pusat kota. Harapannya sederhana: anak-anak di Manonjaya, Cihaur, dan wilayah lainnya memiliki kesempatan belajar yang sama, sejak usia dini hingga jenjang lebih tinggi.

Pada akhirnya, revitalisasi pendidikan bukan hanya tentang memperbaiki gedung sekolah. Program ini membawa harapan baru bagi guru sebagai aktor utama peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta bagi generasi muda Tasikmalaya yang masa depannya sedang dibentuk di ruang-ruang kelas tersebut.

Jika dijalankan secara konsisten dan diawasi dengan baik, dampaknya akan dinilai langsung oleh warga. Sebab pendidikan yang baik tidak memerlukan banyak pidato—cukup hadir dalam bentuk sekolah yang layak, guru yang didukung, dan anak-anak yang pulang dengan cerita belajar, bukan keluhan. (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button