Berita Jabar

Terkadang Prestasi Tak Cukup Mengalahkan Kemiskinan

Kanal Jabar, BERITA TASIKMALAYA Siang hari, ia duduk rapi di bangku kelas. Nilainya tinggi. Ranking dua. Guru mengenalnya sebagai anak yang rajin dan cepat memahami pelajaran.

Namun ketika malam turun di Kota Tasikmalaya, realitas berbicara lain. Ia berdiri di trotoar pusat kota, menengadahkan tangan demi beberapa lembar rupiah.

Namanya Nisa. Dan kisahnya membuka kembali perdebatan lama tentang kemiskinan di Kota Tasikmalaya yang belum benar-benar terselesaikan.


Ketika Pendidikan Bertemu Realitas Ekonomi

Selama ini, pendidikan sering disebut sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Tapi bagaimana jika seorang anak berprestasi tetap harus mengemis setiap malam?

Inilah ironi yang terjadi.

Nisa berjalan kaki dari kawasan Bojong menuju pusat kota bersama adiknya. Beberapa kilometer ditempuh bukan untuk bermain, bukan untuk belajar kelompok, melainkan untuk bertahan hidup. Di satu sisi, ia adalah simbol harapan. Di sisi lain, ia adalah bukti bahwa kemiskinan di

Kasus ini menegaskan satu hal: kemiskinan bukan semata soal malas atau tidaknya seseorang bekerja. Ia berkaitan dengan akses, kesempatan, dan daya dukung sosial yang belum merata


Media Mengangkat, Publik Tersentak

Sejak kisahnya dipublikasikan pada 25 Februari 2026, reaksi masyarakat bermunculan. Banyak warga menghubungi redaksi, menawarkan bantuan, menanyakan alamat, bahkan meminta difasilitasi untuk turun langsung membantu.

Artinya, kepedulian itu nyata.

Ketua Umum PD Pemuda Persatuan Umat Islam (PUI) Kota Tasikmalaya, Fikri Dikriansyah, S.Hum., menyebut bahwa inilah fungsi penting media.

“Tanpa pemberitaan, masalah sosial sering kali dianggap biasa. Setelah diangkat, barulah muncul kepedulian,” ujarnya.

Pernyataan itu mempertegas bahwa kemiskinan di Kota Tasikmalaya membutuhkan kontrol sosial yang konsisten agar tidak menjadi isu yang hanya dibicarakan di balik meja rapat.


Sinergi yang Diuji

Respons awal juga datang dari Camat Cipedes yang membangun komunikasi dengan redaksi untuk menggali informasi lebih lanjut. Langkah ini dinilai positif, meski publik tentu menunggu tindakan nyata.

Asep Ishak, Sekretaris Komunitas SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), memberikan penekanan penting.

“Peristiwa ini menjadi bukti bahwa ketika terjadi sinergi yang positif, indah, dan harmonis antara pemerintah daerah dengan media, maka akan tercipta sinergi yang sangat positif bahkan bisa berdampak langsung kepada masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, kemiskinan di Kota Tasikmalaya hanya bisa ditekan jika kolaborasi tidak berhenti pada komunikasi, tetapi berlanjut pada kebijakan dan aksi konkret.


Lebih dari Sekadar Simpati Ramadhan

Momentum Ramadhan memang mendorong banyak orang untuk berbagi. Namun persoalan kemiskinan di Kota Tasikmalaya tidak bisa selesai hanya dengan bantuan musiman.

Yang dibutuhkan adalah perlindungan jangka panjang bagi anak-anak rentan. Bantuan pendidikan, intervensi ekonomi keluarga, serta pengawasan terhadap eksploitasi anak harus berjalan beriringan.

Karena kota yang maju bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi tentang bagaimana ia menjaga masa depan generasinya.

Dan hari ini, masa depan itu berdiri di trotoar. (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button