Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih di Kawali, Menghidupkan Jejak Sejarah Tatar Galuh
- account_circle Redaktur Kanal Jabar
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kanal Jabar, BERITA CIAMIS – Suasana khidmat dan penuh makna mewarnai Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih yang digelar pada Senin, 20 April 2026, di Kantor Desa Kawali hingga kawasan situs bersejarah Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Sunda, sekaligus menghidupkan kembali jejak sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan di tanah Galuh.
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis turut ambil bagian dalam prosesi tersebut, bersama unsur masyarakat dan tokoh budaya. Kirab ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum reflektif untuk mengingat kembali akar sejarah yang menjadi identitas masyarakat Tatar Galuh.

Simbol Kebesaran Kerajaan Sunda
Dalam Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih, perhatian publik tertuju pada Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake, sebuah simbol kebesaran raja-raja Sunda yang sarat nilai historis. Mahkota ini diyakini sebagai peninggalan dari era Kerajaan Sunda pada abad ke-14.
Berdasarkan catatan sejarah, mahkota tersebut dibuat di kawasan Astana Gede Kawali oleh Raja Galuh, Sanghyang Bunisora Suradipati, yang memerintah pada periode 1357 hingga 1371. Mahkota Binokasih tidak hanya berfungsi sebagai atribut kerajaan, tetapi juga menjadi lambang legitimasi kekuasaan, keabadian, serta kemakmuran sebuah peradaban.
Nilai simbolik inilah yang menjadikan Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih memiliki makna lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi pengingat akan kesinambungan sejarah dari Kerajaan Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang yang memiliki keterkaitan erat dalam perjalanan panjang peradaban Sunda.
Astana Gede Kawali, Saksi Bisu Peradaban
Kawasan Astana Gede Kawali yang menjadi salah satu titik utama dalam Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih merupakan situs bersejarah yang menyimpan banyak peninggalan penting. Di lokasi ini, terdapat prasasti dan struktur batu yang menjadi bukti kejayaan masa lalu.
Sebagai situs cagar budaya, Astana Gede Kawali tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga menjadi pusat edukasi sejarah bagi masyarakat. Kirab Mahkota Binokasih yang melintasi kawasan ini memperkuat narasi bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk jati diri bangsa.
Kehadiran masyarakat dalam prosesi kirab juga menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masih hidup dan dijaga secara kolektif. Hal ini menjadi sinyal positif bagi upaya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Napak Tilas Sejarah dan Penguatan Identitas
Pelaksanaan Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih di Ciamis menjadi bagian dari kegiatan napak tilas sejarah yang memiliki tujuan strategis, yakni memperkuat identitas budaya masyarakat lokal. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk mengenal lebih dekat sejarah leluhur mereka.
Dalam konteks kekinian, pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada aspek seremonial, tetapi juga perlu diintegrasikan dengan edukasi dan pengembangan pariwisata berbasis budaya. Kirab Mahkota Binokasih berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah yang mampu meningkatkan kunjungan ke kawasan Ciamis, khususnya Kawali.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas budaya, dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Sinergi ini penting agar nilai-nilai sejarah tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Pelestarian Budaya di Tengah Tantangan Modernisasi
Di tengah derasnya arus globalisasi, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Tradisi seperti Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih menjadi salah satu upaya konkret untuk menjaga eksistensi budaya Sunda agar tetap relevan.
Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Disbudpora terus mendorong berbagai program yang berfokus pada pelestarian budaya, termasuk revitalisasi situs sejarah, penyelenggaraan event budaya, hingga edukasi berbasis kearifan lokal.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak kehilangan jati diri budaya mereka. Sebab, budaya bukan hanya warisan, tetapi juga sumber nilai yang membentuk karakter masyarakat.
Warisan Leluhur sebagai Kebanggaan Daerah
Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Ciamis terhadap warisan leluhur mereka. Mahkota Binokasih sebagai artefak bersejarah menjadi penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diingatkan bahwa menjaga sejarah berarti menjaga identitas. Upaya pelestarian budaya harus terus dilakukan secara berkelanjutan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan, Penyambutan Kirab Mahkota Binokasih diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya sebagai bagian dari kekuatan bangsa.(4i)
- Penulis: Redaktur Kanal Jabar

Saat ini belum ada komentar