Cahaya Ramadhan 1447 H: Masjid Rahmatullah Panglayungan Perkuat Kepedulian Lewat Santunan

kanaljabar.com BERITA TASIKMALAYA Santunan kembali mengalir dari Masjid Rahmatullah Panglayungan, Perum Bumi Resik Panglayungan, Kota Tasikmalaya. Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, masjid ini sekali lagi menjadi pusat denyut kepedulian. Bukan sekadar agenda tahunan, tetapi tradisi yang menegaskan bahwa kebersamaan masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Acara yang diselenggarakan pada hari Minggu, tgl 15 Februari 2026 berlangsung khidmat. Lantunan ayat suci dari QS Al-Maa’un membuka kegiatan, menghadirkan pengingat yang tajam: agama bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi tentang keberpihakan pada fakir miskin dan kaum dhuafa. Sejak awal, suasana terasa religius sekaligus menyentuh.
Santunan sebagai Jembatan Menuju Berkah Ilahi
Menurut H. Tino Armyanto, S.T., M.Si. dalam wawancaranya menyampaikan bahwa seluruh dana santunan murni berasal dari iuran warga perumahan. Terkumpul Rp55.850.000, yang kemudian disalurkan kepada 1.326 penerima manfaat—terdiri dari 1.200 dhuafa, 100 fakir miskin, dan 26 fisabilillah.
“Alhamdulillah, ini adalah bentuk kebersamaan dan kepedulian warga. Kami ingin Ramadhan disambut dengan berbagi dan memperkuat ukhuwah,” ujarnya.
Lebih dari sekadar angka, santunan ini adalah jembatan silaturahmi. Warga Perum BRP dan masyarakat sekitar duduk dalam satu ruang, dipersatukan oleh niat baik. Masjid kembali menunjukkan fungsinya yang utuh: bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat pemberdayaan dan penguat solidaritas sosial.
Persiapan Spiritual dan Mental untuk Meraih Keberkahan Maksimal
Tausiyah disampaikan oleh Acep Taufiq Ismail. Ia mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia mengenai ilmu agama.”
Menurutnya, Allah menciptakan segala sesuatu dengan fungsi. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan serta mengagungkan kebesaran-Nya. Maka yang paling penting dalam ibadah bukan semata gerakan lahiriah, melainkan hadirnya hati. Salah satu jalan menghadirkan hati itu adalah memperbanyak istighfar.
Ramadhan, lanjutnya, adalah bulan keberkahan, bulan ampunan—Syahrul Maghfiroh. Di dalamnya ada doa-doa yang diijabah dan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Namun keutamaan itu tidak datang otomatis. Ia menuntut kesiapan ilmu, kesungguhan amal, dan hati yang benar-benar ingin berubah.
Persiapan menyambut Ramadhan tidak cukup dengan kalender dan spanduk. Ia harus hadir dalam kesadaran: memperdalam wawasan tentang Ramadhan, memperbanyak shaum, membaca Al-Qur’an, meningkatkan ibadah sunnah, memperluas sedekah, serta menghidupkan istighfar. Ramadhan, tegasnya, harus disambut dengan mental yang bahagia—sebagai karunia, bukan beban.
Bersiap Menjemput Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Ampunan dan Keberkahan
Santunan di Masjid Rahmatullah Panglayungan menjadi ikhtiar kolektif menuju keberkahan itu. Ia bukan hanya penyaluran bantuan, tetapi pernyataan sikap: bahwa iman harus berbuah kepedulian, dan ibadah harus berdampak sosial.
Di tengah tantangan zaman, warga Perum BRP menunjukkan satu hal penting—kebersamaan tidak pernah usang. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum perubahan. Dari berbagi, tumbuh empati. Dari empati, lahir kekuatan. Dan dari kekuatan itulah, masyarakat yang lebih peduli dan berdaya bisa terus dibangun. (ai)



