Tasikmalaya: Tumpukan Sampah Pasca Lebaran Kembali Menggunung

Kanal Jabar, BERITA TASIKMALAYA – Fenomena tumpukan sampah pasca Lebaran kembali menjadi sorotan di Kota Tasikmalaya. Sejumlah ruas jalan utama dilaporkan dipenuhi sampah yang meluber hingga ke badan jalan, bahkan mengganggu aktivitas lalu lintas warga.
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di kawasan Jalan RE Martadinata. Di lokasi ini, sampah tidak hanya menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), tetapi juga meluas ke pinggir jalan hingga menutup sebagian trotoar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan tumpukan sampah pasca Lebaran belum tertangani secara optimal, meskipun sudah menjadi masalah berulang setiap tahunnya.

Didominasi Sampah Rumah Tangga dan Limbah Plastik
Berdasarkan pantauan di lapangan, jenis sampah yang mendominasi terdiri dari sampah rumah tangga, plastik, serta limbah kemasan yang meningkat signifikan setelah momen Lebaran.
Lonjakan volume sampah ini diduga berasal dari aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat selama hari raya. Namun, kapasitas pengangkutan yang terbatas membuat sebagian sampah tidak segera terangkut.
Akibatnya, tumpukan sampah pasca Lebaran terus bertambah dan menciptakan kondisi lingkungan yang kurang sehat.
Ganggu Estetika dan Picu Risiko Kesehatan
Selain merusak pemandangan kota, tumpukan sampah juga menimbulkan bau tidak sedap yang cukup menyengat, terutama saat siang hari. Warga sekitar mengaku terganggu dengan kondisi tersebut.
Tidak hanya itu, penumpukan sampah juga berpotensi menjadi sarang penyakit. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memicu munculnya lalat, tikus, hingga bakteri berbahaya.
Situasi ini mempertegas bahwa persoalan tumpukan sampah pasca Lebaran bukan sekadar isu kebersihan, melainkan juga menyangkut kesehatan masyarakat.
Muncul di Sejumlah Titik Lain di Wilayah Kota Tasikmalaya
Masalah serupa tidak hanya terjadi di satu lokasi. Sejumlah warga menyebutkan bahwa tumpukan sampah juga dijumpai di beberapa titik lain di Kota Tasikmalaya, seperti kawasan Jalan Swaka dan beberapa ruas jalan permukiman padat.
Fenomena ini umumnya terjadi beberapa hari setelah pengangkutan dilakukan, terutama menjelang akhir pekan atau setelah libur panjang. Artinya, persoalan ini bukan hanya soal pembersihan, tetapi juga berkaitan dengan manajemen pengelolaan sampah yang belum maksimal.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tumpukan sampah pasca Lebaran masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan solusi jangka panjang.
Warga Soroti Penanganan yang Dinilai Belum Maksimal
Beberapa warga ada yang angkat bicara terkait kondisi tersebut. Mereka menyampaikan pada redaksi bahwa upaya penanganan sampah masih belum konsisten dan cenderung bersifat sementara.
Bahkan salah seorang warga, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi kebersihan kota yang dinilai belum tertangani dengan baik.
Ia mempertanyakan sejauh mana ketegasan pemerintah dalam menangani persoalan ini, khususnya melalui dinas terkait.
Menurutnya, kegiatan bersih-bersih sering kali hanya bersifat seremonial tanpa dampak jangka panjang.
Keluhan ini menjadi sinyal bahwa masyarakat menginginkan perubahan nyata dalam pengelolaan tumpukan sampah pasca Lebaran.
Perlu Kesadaran Bersama, Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah
Di tengah kondisi tersebut, penting untuk disadari bahwa persoalan sampah tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk menekan volume sampah yang dihasilkan.
Warga diimbau untuk mulai memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan.
Kesadaran kolektif ini menjadi kunci dalam mengatasi persoalan tumpukan sampah pasca Lebaran agar tidak terus berulang setiap tahun.
Butuh Solusi Sistemik dan Berkelanjutan
Persoalan ini sejatinya membutuhkan pendekatan yang lebih sistemik, mulai dari peningkatan kapasitas pengangkutan, pengelolaan TPS yang lebih baik, hingga edukasi masyarakat secara berkelanjutan.
Tanpa langkah konkret dan konsisten, tumpukan sampah pasca Lebaran hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang terus berulang tanpa solusi yang jelas.
Momentum pasca Lebaran seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi semua pihak, agar wajah Kota Tasikmalaya tetap bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali. (4i)



