Selat Hormuz Lumpuh! Konflik Timur Tengah Memanas dan Harga Minyak Melonjak

Kanal Jabar, BERITA INTERNASIONAL – Konflik Timur Tengah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya setelah Iran meningkatkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan jaringan transportasi di kawasan Teluk pada Rabu (11/3/2026).
Serangan tersebut dilaporkan menargetkan sejumlah kapal komersial serta area sekitar Bandara Internasional Dubai. Aksi ini terjadi di tengah gelombang serangan udara yang terus dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Eskalasi terbaru ini membuat Konflik Timur Tengah semakin meluas dari wilayah Gaza dan Lebanon menuju kawasan Teluk, yang merupakan pusat distribusi energi global. Para pejabat Iran bahkan memperingatkan bahwa perang bisa berlangsung lama dan berpotensi mengguncang ekonomi dunia.
Ancaman terbesar datang dari gangguan pasokan minyak global yang sangat bergantung pada jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Perang 12 Hari dan Tanda Kebuntuan Militer
Setelah hampir dua pekan pertempuran, Konflik Timur Tengah kini menunjukkan tanda-tanda kebuntuan militer. Serangan balasan terus terjadi di berbagai wilayah.
Israel masih melancarkan serangan udara ke target yang mereka sebut sebagai basis Hizbullah di Lebanon. Sebagai balasan, Iran dan kelompok tersebut menembakkan rudal serta roket ke wilayah Israel.
Dampaknya sangat besar terhadap warga sipil. Badan pengungsi PBB melaporkan sekitar 759.000 orang mengungsi di Lebanon, sementara lebih dari 92.000 orang melarikan diri ke Syria.
Ketegangan juga meningkat di kawasan Teluk. Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh delapan drone Iran. Sementara Arab Saudi melaporkan telah mencegat lima drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah.
Pemakaman Massal Komandan Iran
Di Iran, ribuan orang turun ke jalan mengikuti pemakaman massal sejumlah komandan militer yang tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Prosesi pemakaman berlangsung di Teheran dan beberapa kota lain dengan iringan bendera nasional serta potret pemimpin tertinggi Iran yang tewas pada awal perang, Ayatollah Ali Khamenei, serta putranya Mojtaba Khamenei.
Untuk pertama kalinya, pejabat Iran mengakui bahwa pemimpin baru negara tersebut juga mengalami luka dalam serangan udara yang menewaskan anggota keluarganya.
Duta Besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, mengatakan pemimpin Iran itu mengalami luka di tangan, kaki, dan lengan sehingga diduga masih menjalani perawatan medis.
Sejak perang dimulai, tokoh tersebut belum muncul di hadapan publik.
AS dan Israel Tegaskan Operasi Militer Berlanjut
Meskipun tekanan internasional meningkat agar konflik dihentikan, pemerintah Amerika Serikat dan Israel memberi sinyal operasi militer akan terus dilanjutkan.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan operasi akan berlangsung tanpa batas waktu hingga tujuan militer tercapai.
Sementara itu Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pesan yang beragam. Ia sempat menyebut konflik ini sebagai operasi singkat, tetapi kemudian menegaskan bahwa perang belum selesai.
Trump bahkan mengklaim militer AS telah menghancurkan 58 kapal angkatan laut Iran, meski operasi militer masih akan berlanjut.
Selat Hormuz Lumpuh, Dunia Khawatir Krisis Energi
Salah satu dampak paling serius dari Konflik Timur Tengah saat ini adalah gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Sejak perang dimulai, setidaknya 14 kapal dagang dilaporkan terkena serangan di kawasan Teluk.
Sebuah kapal kargo berbendera Thailand harus dievakuasi setelah ledakan memicu kebakaran. Kapal kontainer berbendera Jepang dan kapal kargo berbendera Kepulauan Marshall juga mengalami kerusakan.
Ratusan kapal kini tertahan di sekitar selat sempit tersebut karena khawatir menjadi sasaran serangan.
Situasi ini disebut sebagai gangguan pasokan energi terbesar sejak krisis minyak 1970-an.
Iran bahkan menyatakan tidak akan mengizinkan ekspor minyak melewati jalur itu sampai serangan Amerika Serikat dan Israel dihentikan.
Seorang juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak hingga US$200 per barel jika konflik terus berlangsung.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Dunia
Eskalasi Konflik Timur Tengah telah memicu kekhawatiran serius di berbagai negara karena berpotensi menimbulkan krisis energi global.
Harga minyak dunia telah melonjak melewati US$110 per barel, sementara lembaga energi internasional merekomendasikan pelepasan 400 juta barel cadangan minyak untuk menstabilkan pasar.
Gangguan logistik juga mulai terasa. Jalur penerbangan internasional dan pelayaran di kawasan Teluk mengalami pembatasan karena meningkatnya risiko keamanan.
Dampak Konflik Timur Tengah bagi Indonesia
Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah juga berdampak langsung bagi Indonesia.
Beberapa potensi dampak yang mulai diantisipasi pemerintah antara lain:
1. Risiko kenaikan harga energi
Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan biaya impor bahan bakar jika harga minyak global terus melonjak.
2. Gangguan pelayaran dan logistik
Sejumlah kapal perdagangan dilaporkan tertahan di jalur Teluk, termasuk kapal yang membawa komoditas energi.
3. Ancaman terhadap perjalanan haji dan umrah
Pemerintah sedang menyiapkan beberapa skenario untuk menghadapi kemungkinan gangguan penerbangan menuju Arab Saudi menjelang musim haji 2026.
Konflik Proksi yang Lama Membara
Para analis menilai eskalasi terbaru ini merupakan bagian dari konflik proksi yang sudah lama terjadi antara Iran dan Israel.
Perseteruan tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari rivalitas geopolitik, perbedaan ideologi, hingga perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah.
Selama konflik belum menemukan solusi diplomatik, situasi diperkirakan akan terus memanas dan berpotensi memicu krisis ekonomi global yang lebih luas. (red)