Tag: Garut Selatan

  • Di Teras Rumah Itu, Warga Garut Butuh Pertolongan dan Sisa Harapan

    Di Teras Rumah Itu, Warga Garut Butuh Pertolongan dan Sisa Harapan

    Kanal Jabar, Berita Garut – Di teras rumah sederhana di Garut selatan, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat, Pirmansyah dan Isoh Nurjanah duduk berdampingan. Tidak ada tamu. Tidak ada keramaian. Hanya sebuah ponsel yang merekam suara pelan seorang ayah yang nyaris kehilangan tenaga untuk terus bertahan.

    Pesan itu ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat. Bukan untuk mengeluh panjang, melainkan menyampaikan satu kenyataan: anak mereka sakit, dan mereka tidak lagi mampu berjuang sendiri.

    Sang suami bernama Pirmansyah, usianya diperkirakan sekitar 50 hingga 55 tahun. Ia duduk di samping istrinya, Isoh Nurjanah, yang sejak awal lebih banyak terdiam. Tatapannya kosong, seperti orang yang sudah terlalu sering berharap, lalu belajar menahan kecewa.

    Perjuangan yang Tidak Banyak Dilihat

    Selama bertahun-tahun, pasangan ini mencoba bertahan. Berobat ke berbagai tempat, mengandalkan penghasilan seadanya, sambil menjaga anak mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Pirmansyah tetap bekerja sebagai pasapon di sekolah menengah, meski sering kali harus memilih antara mencari nafkah atau mendampingi anak.

    Di titik inilah kisah warga garut butuh pertolongan menjadi nyata dan personal.

    Suara yang Disampaikan Orang Lain

    Dalam video berdurasi 1 menit 18 detik itu, Pirmansyah menjelaskan bahwa anak mereka saat ini mengalami gangguan kejiwaan. Sudah lama. Sudah dicoba berbagai cara. Sudah dibawa berobat ke sana kemari. Namun hingga hari ini, kondisi sang anak belum juga membaik.

    Video itu tidak mereka unggah sendiri. Seorang tetangga, yang tak tega melihat perjuangan mereka, mengirimkan rekaman tersebut ke media. Bahkan, video kedua yang memperlihatkan kondisi sang anak ikut disertakan, agar publik memahami bahwa ini bukan sekadar cerita sedih tanpa dasar.(disadur dari Lintas Priangan)

    Harapan yang Dititipkan

    Nama Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi disebut bukan sebagai jalan pintas, tetapi sebagai harapan terakhir. Sosok pemimpin yang dikenal kerap hadir di tengah warga ketika jalur formal terasa terlalu jauh dan berliku.

    Berita ini bukan tentang belas kasihan. Ini tentang mendengarkan, tentang kepedulian, tentang empati dengan memastikan bahwa suara dari teras rumah sederhana itu tidak berhenti di sana. (red)