Jawa Barat tidak hanya dapat dipahami lewat angka pembangunan dan daftar peristiwa. Tema menyambung tradisi gotong royong di era digital memperlihatkan hubungan antara ingatan budaya, kebutuhan sehari-hari, dan perubahan sosial yang berlangsung perlahan.
Ketika masyarakat membicarakan menyambung tradisi gotong royong di era digital, yang dipertaruhkan bukan semata bentuk fisik atau kebiasaan lama. Ada soal akses, kesempatan, kesetaraan, dan daya masyarakat untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Pandangan yang berbeda patut ditempatkan dalam satu percakapan. Keinginan menjaga warisan harus bertemu kebutuhan berinovasi; kepentingan pertumbuhan juga perlu memperhitungkan kelompok yang paling rentan ditinggalkan.
Kebijakan yang baik semestinya dimulai dari mendengar pengalaman warga, memeriksa data, serta menimbang biaya sosial dan lingkungan, bukan sekadar membangun citra keberhasilan.
Karena itu, membicarakan menyambung tradisi gotong royong di era digital berarti menanyakan langkah apa yang dapat dikerjakan bersama: pemerintah membuka ruang keputusan, masyarakat menjaga daya kritis, dan generasi muda diberi kesempatan berpartisipasi.
Tulisan VIEWS ini merupakan refleksi dan argumentasi, bukan laporan atas kejadian tertentu. Pandangan penulis tidak selalu mencerminkan sikap resmi redaksi KanalJabar.




