Wacana Impor Guru, Pengamat: Pola Pikir Pemimpin Kita Masih Bermental Inlander

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi, M.SI -Dosen Progam Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unida Bogor -Ketua Dewan Pakar PATOMAS Bidang Kajian Publik

343

KANALJABAR – Apabila betul bahwa wacana impor guru akan di implementasikan dalam waktu dekat ini oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusiadan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dengan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Hal ini sama saja bangsa Indonesia masih menjadi “bangsa bermental inlander.”

 Inlander” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Pribumi” atau “Masyarakat asli,’yang dianggap oleh pemerintah colonial Belanda sebagai bangsa pribumi yang bodoh dan hanya pantas menjadi budak belanda,”karena itu kehadirannya dianggap tidak penting dalam momen acara-acara besar yang di selengggarakan oleh Pemerintah Belanda.

Perlakuan tersebut berdampak pada tekanan mental tersendiri sampai sekarang pada bangsa yang biasa disebutnya “Bangsa Inlander”.Wujud dari sindrom mental inlander kini celakanya bukan hanya melanda dikalangan masyarakat biasa, tetapi juga dikalangan pemimpin atau penguasa dan elit politik, yakni selalu tidak percaya diri, tidak yakin dengan kemampuan bangsanya sendiri, selalu menganggap bangsa lain lebih unggul, lebih bagus, lebih berpengalaman, dan lebih pintar. Sementara kemampuan bangsa sendiri dipandang sebelah mata. Bahkan sama sekali tidak di pandang.

Sampai sekarang hampir semua dari kita secara bawah sadar masih mengidap perasaan inferior dan rendah diri terhadap orang-orang bule atau orang asing yang dianggap lebih superior.

Jadi, sebenarnya tak heran ketika Puan sebagai Menko MPK memiliki ide untuk mengimpor Guru untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, karena mental inlandernya melihat SDM guru dari negara lain dianggap lebih unggul.

Akibat berpikir buruk atau setidaknya pesimis dengan negerinya sendiri, maka tindakan negatiflah yang kemudian akan dipilih untuk negerinya sendiri, yaitu dengan impor guru. Bukan hanya impor Guru saja, selama ini sering kita dengar pula, misalnya adanya kebijakan impor beras, kacang kedelai, bawang merah dan bawang putih, daging sapi dan ayam, buah-buahan dan sebagainya.

Sebenarnya kita kurang apa? Sebagai contoh, apakah Indonesia kekurangan lahan untuk ber-swasembada dalam hal pangan? Jawabannya tidak. Apakah kita kekurangan SDM dari berbagai keahlian? Juga jawabannya tidak. Apakah kita kekurang Universitas atau Perguruan Tinggi  yang berkualitas dan berreputasi nasional atau internasional untuk mencetak para sarjana dari berbagai bidang jurusan. Jawabanya juga tidak. Tetapi kenapa negeri  ini seperti sulit lepas dari ketergantungan impor? Karena pemimpin kita tidak berpikir dan bertindak optimis terhadap negerinya sendiri, sehingga impor seolah tak bias dihindari. Jadi, akar masalah yang dihadapi negeri ini ada pada sikap buruk terhadap negeri sendiri.

Dengan demikian kita tidak mampu membaca keunggulan dan potensi yang benar-benar milik kita  sendiri. Hal ini menyebabkan bangsa kita “gagap” dalam menghadapi masalah. Bagaimana tidak gagap jika solusi yang digunakan adalah hasil kontemplasi dari bangsa lain yang selalu kita bangga-banggakan. Padahal yang paling tahu tentang problematika kehidupan kita adalah kita sendiri juga termasuk cara mengatasinya. Sebenarnya, tak ada sesuatu yang tidak mungkin, jika bangsa ini mau bekerja keras menggapai cita-citanya, agar bangsa ini dapat berdiri diatas kaki sendiri.

Berdiri diatas kaki sendiri artinya diatas kemampuan kekuatan kita sendiri tanpa harus bergantung dengan orang lain. Menurut Bung Karno sang proklamator kemerdekaan mengatakan: “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” Memang tidak mudah, tapi kita harus yakin dengan kemampuan bangsa kita sendiri, bahwa kita bias menghadapi problem kualitas pendidikan kita tampa harus impor guru dari negara lain.*

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

 
Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!