Urgensi Membangun Desa Masa Depan Bebasis Digital

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M. SI

119

KANALJABAR – Tentang istilah Revolusi Industri 4.0 semakin popular dibicarakan tidak hanya dikalagan akademisi saja, juga oleh berbagai kalangan di masyarakat. Karena itu, sebelum tulisan ini kita lanjutkan, maka kita lihat dulu pengertian dari revolusi industri itu sendiri. Revolusi industri secara sederhana dapat diartikan adalah perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang.

Perubahan besar ini tercatat sudah terjadi tiga kali Revolusi industri, dan saat ini kita sedang mengalami revolusi industri yang keempat maka disebut “Revolusi Industri 4.0.” Revolusi industri merupakan sebuah perubahan cara hidup manusia dan proses kerja secara fundamental, dimana adanya kemajuan teknologi informasi dapat mengintegrasikan dalam dunia kehidupan dengan digital yang dapat memberikan dampak disiplin ilmu. Munculnya revolusi industri 4.0 membut wajah baru dalam fase kemajuan teknologi.

patomas

Dengan adanya revolusi industri 4.0 tersebut, kini muncul pula istilah baru sebagai implikasi dari pesatnya perkembangan teknologi, salah satunya digital. Sekarang kosa kata digital bukanlah kosa kata asing, mengingat hampir segala aspek kehidupan masyarakat di dunia, juga di Indonesia tidak pernah lepas dari penggunaan teknologi itu sendiri. Karena itu, memasuki era digitalisasi tersebut, memberikan dampak perubahan yang luar biasa. Setiap perubahan besar ini selalu diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer dan budaya.

Dengan memasuki era digitalisasi tersebut, ternyata rupanya juga terdampak secara signifikan kepada perubahan tatakelola birokrasi pemerintahan. Beberapa hal yang bisa kita amati ialah semakin meluasnya sistem komputerirasi masuk kesuluruh wilayah birokrasi pemerintahan pusat maupun daerah dan desa. Hadirnya internet, website, email dan sebagainya yang diterapkan dibirokrasi tersebut, maka lahirlah sekarang istilah birokrasi digital, atau e-government disingkat e-Gov yang format data dan teknologi yang digunakan berupa internet.

Dalam konteks perspektif Ilmu Administrasi Publik, dapat dikatakan bahwa hubungan e-government dan administrasi publik adalah suatu fenomena. Oleh karena itu e-government selaku fenomina administrasi publik, maka dalam kajian administrasi publik menempati posisi kunci. Tak heran kini di dunia maupun di Indonesia sedang mengalami transisi dari “government” menjadi “e-government”. Kini lokus berada pada Administrasi Publik, dengan memanfaatkan e-government selama ini oleh birokrasi pemerintah dalam melakukan pelayanan kepada publik. Oleh karena itu, sudah tidak jamannya lagi bagi tata kelola birokrasi dijalankan dengan sistem konvensional. Mengingat kecepatan, keakuratan, dan kecermatan menjadi salah satu keunggulan yang dikedepankan di era digitalisasi ini.

Dalam konteks ini, sebagai contoh pengurusan berbagai kebutuhan yang terkait yang melibatkan unsur birokrasi, misalnya perijinan menjadi lebih sederhana, praktis, dan tidak bertele-tele, serta menjadi lebih akurat, terjamin, hemat atau murah. Ini dampak konsekuensi implementasi pelayanan birokrasi digital atau e-government. Karena itu, birokrasi digital dalam pelayanan publik telah mampu memudahkan dan menyederhanakan, yaitu melalui pelayanan publik berbasis online menjadikan semua urusan administrasi dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Karena adannya fasilitas internet yang terpasang dapat on air 24 Jam. Sehingga segala keperluan dapat diakses yang tidak terbatas waktu dan ruang.

Disinilah keunggulan digitalisasi birokrasi, atau e-government, sehingga bila diimplentasikan pada berbagai kegiatan kepemerintahan dan pembangunan, tentu menjadikan adaptasi dan fleksibilitas tatakelola birokrasi pemerintahan menjadi tinggi. Orientasi dan harapan publik atas pelayanan yang lebih cepat, sederhana, mudah, terjangkau dan bebas akses/waktu menjadi satu keniscayaan yang harus dipenuhi oleh penyelenggara layanan (pemerintah pusat, daerah maupun desa). Oleh sebab itu tidak ada lagi alasan untuk menghindar. (Bersambung pada bagian 2).

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Editor: A. S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

 

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!