“Si Vis Pacem Para Bellum”

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M. SI

397

KANALJABAR – Ada hal yang menarik bagi saya dari rapat dengar pendapat perdana Menhan dan Komisi l DPR RI kemaren dulu. Yaitu ketika Menhan Prabowo Memaparkan Visi dan Misi dan Rencana Kerja Kementerian Pertahanan. Ketika sampai pada penjelasan dasar wawasan pemikiran pertahanan negara, maka Prabowo penganut filosofi kuno, yaitu “Si vis pacem, para bellum”.

Mendengar kata ini, jadi mengingatkan saya dulu ketika masih kuliah S1 pada program studi Hubungan Internasioal (HI) Unpad. Kata “Si vis pacem, para bellum” sering dijelaskan dalam matakulia politik internasional dan sejarah diplomasi.

patomas

LANTAS untuk mendapatkan pemahaman, maka apa dimaksud dengan “Si vis pacem, para bellum” itu? Ini adalah sebuah peribahasa Latin, yang dipopulerkan dari penulis militer Romawi Publius Flavius Vegetius Renatus: Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum. Artinya: “Jika kau ingin kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang.” Analog ini, nampak dilihat dari perspektif makna seperti bertentangan. Bukankah aneh orang pengen damai tapi kok disuruh siap-siap perang? Kira-kiranya begitulah pandangan masyarakat umum dalam memahaminya.

JADI, peribahasa atau analog ini didasarkan pada asumsi adanya sifat natural manusia yang selalu “saling ingin menguasai satu sama lain.” Jangankan kaum radikal, kaum pendamai pun adakalanya punya keinginan untuk menguasai satu sama lain. Ini belum berbicara masalah perbedaan visi dan misi yang dibawa oleh setiap orang, dan masalahnya menjadi jauh lebih kompleks ketika menyangkut kepentingan ideologi dan penguasaan sumber-sumber daya alam strategis. Karena faktor-faktor inilah, konflik horizontal antar manusia, atau antar negara sangat memungkin terjadi. Puncaknya, bisa terjadi perang.

OLEH karena itu, untuk mencegah muncul konflik berskala besar seperti peperangan, maka tentu upaya menjaga kedamaian sangat perlu. Namun, tentu harus pula diusahakan dengan cara selalu waspada, bersiap-siap dan mengantisipasi seolah-olah dalam kondisi akan terjadi perang. Suatu contoh nyata seperti Amerika Serikat atau Rusia yang saat ini sama-sama mendominasi senjata nuklir di dunia. Tetapi seandainya saja salah satunya tidak punya hulu nuklir, mungkin saja sudah terjadi perang besar antara kedua negara superpower tersebut. Begitu pula, senadainya saja mereka tidak punya nuklir, mungkin akan lebih banyak oposisi atau negara-negara lain yang berani mengacaukan suasana di dua negara tersebut (AS dan Rusia). Inilah yang mendasari munculnya pemikiran filosofi ungkapan “si vis pacem para bellum”. Yang kemudian dijadikan dasar pemikiran dalam oleh Menhan Probowo dalam kerangka membangun dan memperkuat pertahanan NKRI (Bersambung bagian 2).

Disclaimer: Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Editor: A. S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!