“Si Vis Pacem Para Bellum”

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M. SI

354

KANALJABAR – Pada tulisan artikel bagian ketiga ini, saya akan mengulas filosofi yang menjadi acuan Prabowo menjadi Menteri Pertahanan (Menhan), selain filosofi “Si vis pacem para bellum” (“Jika kau ingin kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang”) yang dikemukakan oleh Publius Flavius Vegetius Renatus, dan sudah dijelaskan pada bagian satu dan dua pada artikel ini.

Filosofi kuno yang kedua yang selalu digunakan sebagai pegangan oleh menhan Prabowo, adalah dengan mengutif perkataan Thucydides: “The strong will do what they can, and the weak will suffer what they must (Yang kuat melakukan apa saja yang mereka inginkan, dan yang lemah berjuang mempertahankan apa yang mereka bisa pertahanankan). Hal ini disampaikan ketika rapat dengar pendapat dengan Komisi l DPR RI kemaren dulu.

patomas

Lebih lanjut, siapa Thucydides itu? Bapak sejarah Yunani yang hidup sekitar 24 Abad yang lalu. Karyanya adalah In History of the Pelopnnesian War (Sejarah Perang Peloponnesos) yang menguraikan kebangkitan Sparta yang membuat kegelisahan Athena dan nantinya menimbulkan perang yang benar-benar tidak bisa dihindarkan.antara Sparta melawan Athena sampai tahun 411 SM. Menurut Thucydides: “It was the rise of Athens and the fear that this instilled in sparta that made war inevitable” (“Itu adalah kebangkitan Athena dan ketakutan bahwa ini ditanamkan dalam Sparta yang membuat perang tak terhindarkan”). Pada waktu itu Athena “negara” yang jauh lebih kuat, sedang Sparta jauh lebih kecil dan lemah, dimintanya oleh Athena harus tunduk secara sukarela. Namun, Sparta menolaknya untuk tunduk, maka akhirnya dihancurkan oleh Athena yang lebih perkasa. Dari realitas itulah yang menjadikan muncul pemikiran realisme Thucydides.

Nama Thucydides bagi pengamat militer, hubungan internasional, atau mahasiswa Fisip program hubungan internasional tidak asing lagi. Terutama mengenai pendekatan “realisme politik Thucydides” ini. Pada intinya, asumsi pendekatan “realisme politik Thucydides adalah negara merupakan aktor rasional dan instrumental dipanggung internasional, karena itu negara selalu berusaha memaksimalkan keuntungannya untuk menjaga dan mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam panggung politik internasional.

Selain itu, sistem internasional bersifat anarkis maka negara akan menjadi egois. Negara akan bersaing dalam peningkatan senjata militer dan strategi militer untuk memperluas dan mempertahankan kekuasaanya. Akibatya, dipanggung hubungan internasional memungkinkan negara kuat melakukan apa yang mereka menyenangkan dan memaksa yang lemah menderita karena mereka harus menerima. Kalau tidak dihancurkan oleh yang kuat. Karena itu, kaum realis percaya hubungan internasional selalu dalam kondisi anarkis. Sebab itu, untuk mencapai keamanan negara, maka negara harus terus meningkatkan kemampuan persenjataan dan pasukan tentarannya.

Oleh karena itulah, tidak mengherankan kalau menhan Prabowo dalam penyampaian rencana strategi penguatan pertahanan negara Indonesia didasari pada pedekatan realisme politik klasik Thucydides, yang dapat ditasirkan bahwa Prabowo ingin menjadikan Indonesia sebagai negara kuat bukan negara yang lemah ditengah persaingan global. Bahkan ingin mengembalikan kejayaan Indonesia sempat menjadi “macan militer”. Misalnya, di era 1960an pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia pernah ditakuti oleh dunia. Bahkan, negara kita merupakan salah satu dari negara dengan kekuatan militer terbesar dan terkuat di dunia yang membuatnya dijuluki sebagai Macan Asia.

Namun, seiring dengan berakhirnya kekuasaan Soekarno, berakhir pula kekuatan militer Indonesia yang sempat membuat gentar negara-negara Barat. Karena itu, sempat kita berpikir, mengapa negara kita yang pernah begitu disegani sekarang seolah hanya menjadi sejarah. Menjadi “macan tidur”. Sebab itu, mungkin kita perlu bangkit dan menyadari bahwa negara kita juga bisa menjadi negara yang disegani seperti dulu. Jika dulu yang masih baru merdeka saja bisa seperti itu, mengapa sekarang tidak? Sudah saatnya kita semua bangkit bersama dan memajukan Indonesia.

Disinilah relevansinya pemikiran Prabowo dalam ilmu hubungan internasional, dimana sebuah negara harus memiliki kekuatan militer, karena tak bisa dipungkuri bahwa kekuatan militer masih menjadi salah satu faktor utama sebuah negara dihargai dan disegani oleh negara-negara lain. Lebih-lebih kekuatan militer dari dulu sampai sekarang telah menjadi instrument utama bagi diplomasi luar negeri sebuah negara. Dalam diplomasi memiliki militer kuat dapat menambah bargaing position (posisi tawar) yang kuat pula. Karena ketika penyelesaian konflik “buntu” alias “mentok”, maka ujung penyelesaian militer yang bertindak.Oleh karena itu memiliki militer yang kuat dapat memainkan peranan yang lebih di pergaulan internasioal, yang tentunnya juga akan membawa kepada kepetingan ekonomi dan kesejahteraan negara tersebut. Diakhir tulisan ini, terdapat harapan semoga menhan Prabowo dapat sukses mengembalikan Indonesia sebagai “macan militer” Asia (Bagian terakhir).

Disclaimer: Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Editor: A. S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

 

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!