“Si Vis Pacem Para Bellum”

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M. SI

388

KANALJABAR – Pada bagian ke satudari tulisan artikel ini, telah dikemukakan bahwa Menhan Prabowo sewaktu rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi l DPR RI kemaren dulu, yaitu ketika menjelaskan rencana dasar filosofis pemikiran penguatan pertahanan negara,maka Prabowo mengacu pada ungkapan filosofis “Si vis pacem, para bellum,” (“Jika kau ingin kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang”) yang dikemukakan oleh Publius Flavius Vegetius Renatus. Ungkapan filosofis tersebut sudah dijelaskan sepintas pada tulisan pertama.

Pada bagian dua ini, ada ungkapan yang sejalan dengan filsuf Yunani, Aristoteles, pernah berkata, We make war that we may live in peace” (Kita berperang agar kita dapat hidup dalam damai) dan meskipun dia mengatakannya lebih dari dua ribu tahun yang lalu, dan Cicero hidup dari tahun 106-43 SM, sekitar dua ratus tahun setelah Aristoteles, namun ia mengatakan bahwa “hanya ada satu alasan untuk pergi berperang, dan itu adalah agar kita dapat hidup dalam damai tanpa terluka.”Kata-katanya masih terdengar benar sampai hari ini.

patomas

Selama Perang Dunia I, selama empat tahun dari 1914-1918; sudah banyak yang gugur untuk membayar pengorbanan tertinggi untuk negara mereka untuk mendapatkan perdamaian, namun tiga puluh tahun kemudian, datanglah, Perang Dunia ll dari 1939-1945. Itu kira-kira sebelas juta pria muda di seluruh dunia yang berkorban untuk mewujudkan perdamaian. Bahkan kita sekarang dan waktu 2019, sebenarnya kita hidup di tengah bayang-bayang perang. Karena Perang bagaikan siklus yang datang silih berganti. Maka kalau ada PD ke 1 dan PD ke ll, kemungkinan akan terjadi PD lll dengan slogan sama untuk menciptakan perdamaian. Jadi, perang akan selalu ada bersama kita. Hanya tepat waktunya dan dimana dimulai, itulah yang sukar diduga.

Pertanyaannya, apakah perdamaian dunia itu ilusi. Karena mungkin tidak pernah melihat kenyataan; Namun, seperti yang dikatakan Benjamin Franklin, “tidak pernah ada perang yang baik atau perdamaian yang buruk”, dan dia benar. Bahkan jika perdamaian dunia tidak akan pernah lebih dari mimpi, itu tetap memberi kita harapan. Harapan untuk dapat membangun kembali meski dari nol kembali karena hancur dibombardir perang. Jadi, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, damai dan perang merupakan bagian dari kehidupan kita.

Disinilah relevansi narasi pemaparan Menhan Prabowo, dengan mengacu pada filosofis kuno “Si vis pacempara bellum,” karena ia menyadari bahwa pada situasi tertentu, dimana hubungan antara negara tidak selamanya didasari oleh adanya keinginan untuk kerjasama (cooperation), ada kalanya didasari oleh keinginan berkuasa, karena adanya kepentingan-kepentingan ekonomi, ideologi dan penguasaan sumber-sumber alam. Karena itu, menhan Prabowo menyadari pula bahwa negara tidak boleh lemah agar tidak mudah terkooptasi (cooptation) oleh negara lain, maka setiap bangsa yang ingin tetap berlangsung hidup (damai) maka harus selalu siap perang. Meski negara kita cinta damai. Disinilah perlunya terus meningkatkan kemampuan dan kekuatan TNI, termasuk kemampuan membaguan alat utama sistem persenjataan (alutista) buatan dalam negeri. Selain itu, kita memiliki kekuatan yang besar. Sumber Daya Manusia (SDM) yang mencapai 250 juta, kekayaan alam melimpah akan semakin memperkuat posisi tawar (bargaing position) Indonesia dimata dunia. (Bersambung bagian 3).

Disclaimer: Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Editor: A. S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!