Paradigma Sains: Sekuler ke Arah Sains Qurani (Bagian 3)

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M.S

130

KANALJABAR – Melanjutkan topik paradigma sains (ilmu pengetahuan) sebelumnya, maka pada bagian ke 3 ini, bahwa sebenarnya Islam tidak anti peradaban modern bahkan awal kebangkitan sains di Eropa kala itu justru karena masuknya Islam ke Eropa antara abad 7-10 (650-1000 SM). Dengan ini Islam telah mengaplikasikan petunjuk wahyu pertama: “Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam.” dan “Dia mengajarkan kepada manusia yang tidak diketahuinya, dan memindahkan dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu ” (Q.Al-Alaq 4-5).

Wahyu yang diturunkan 14 abad yang lalu itu, adalah merupakan bimbingan terhadap akal manusia sebagai fitrah yang diberikan Allah, agar menjadi sadar akan dirinya (eksistensi dirinya), Tuhannya (Tuhan ada), dan jagat raya (keberadaan alam ini). Atas dasar itulah manusia melakukan pengembangan ilmu dan penyelidikan di segala aspek kehidupan.

patomas

Maka tak mengherankan, kalau dikatakan bahwa dunia Islamlah yang pertama sebagai pionir yang mengembangkan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains, ekonomi, politik, pertanian, industri, dan kemiliteran). Pengaruh dari adanya pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam tersebut, telah menjalar ke Persia, Spanyol, dan ke dunia Barat pada umumnya. Karena itu, tak berlebihan dikatakan bahwa dunia Barat belajar ilmu pengetahuan, justru dari dunia Islam.

Karena itulah, sebenarnya Islamlah yang lebih awal menganjurkan dan mengajak umat manusia agar menggunakan akal pikiran untuk mencapai kebenaran dan untuk menentukan siapa di balik penciptaan alam raya ini. Karena itu, agama Islam menganjurkan agar akal itu terus digerakan dan segera bangunkan dari tidurnya, dan melakukan perenungan dan pemikiran.

Aktivitas semacam ini adalah merupakan inti peribatan kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah berfirman: “Katakanlah: “Periksalah olehmu semua apa-apa yang ada di langit dan di bumi”(QS Yunus 101). Dari ayat tersebut, jelaslah Allah telah menciptakan apa-apa yang di langit dan di bumi ini, semuanya untuk manfaat manusia. Namun, sebelum dapat dinikmati oleh manusia itu, maka harus melalui beberapa tahapan proses.

Hal ini berarti memerlukan orang-orang yang bertafakur atau berpikir, yakni para pakar yang secara sungguh-sungguh dapat mengkaji dan meneliti yang terkandung dalam perut bumi kita ini. Dengan akal pula manusia mempunyai kemampuan-kemampuan seperti, berpikir, menuntut ilmu pengetahuan dan meneliti sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Tetapi orang-orang beriman, akan memanfaatkan kemampuan-kemampuan itu untuk beramal saleh, sehingga bagi mereka ada imbalan, pahala tiada putus-putusnya, karena manusia lainnya mendapatkan manfaat dari hasil karyanya. (Bersambug ke bagian 4)

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

 

 

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!