Paradigma Sains: Sekuler ke Arah Sains Qurani (Bagian 2)

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M.Si

591

KANALJABAR – Melanjutkan topik paradigma sains (ilmu pengetahuan) sebelumnya pada bagian satu, maka pada kesempatan ini akan saya jelaskan mengenai bagaimana nilai-nilai yang melandasi paradigma atau cara pandang sains modern sekuler tersebut, yakni dapat lihat dari dasar-dasar filsafat sains yang digunakan. Baik dari aspek ontologis, epistemologi maupun aksiologi.

Aspek ontologis, menyangkut yang Ada (Being) yang dibatasi objek-objek empiris (emperical), diluar itu dianggap tidak ada. Karena rasionalisasi empiris harus terukur secara indrawi, atau mengikuti hasil eksperimen melalui indrawi. Karena landasan emperisme adalah kenyataan-kenyataan, fakta-fakta dan kejadian-kejadian pada alam sekitarnya. Jadi, segala sesuatu yang ada diluar jangkauan pengamatan dan eksperimen ilmiah harus ditolak. Sedangkan, aspek epistemologi sains modern yang menyangkut manusia sebagai alat untuk mencapai objek, atau tentang bagaimana mendapatkan pengetahuan.

patomas

Sains modern hanya mengandalkan indera dan rasio, selain itu tidak dapat dipertanggung- jawabkan sebagai sumber kebenaran. Dan aspek aksiologi sains modern yang menyangkut nilai kegunaan dari ilmu, yakni bertalian dengan upaya pengembangan sains untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Dalam sains modern bahwa pengembangan sains lebih cendrung mengambil bentuk penemuan kepuasan kebutuhan-kebutuhan materialistis, dan bila perlu meniadakan nilai, atau dalam bentuk science for science (ilmu untuk ilmu).

Maka itu tidak lagi memperhatikan prinsip etik dan moral, atau nilai agama. Memang dengan paradigma tersebut tidak disangkal, yang menempatkan akal-merdeka telah melahirkan peradaban modern, yaitu peradaban Barat yang sekuler. Hanya persoalanya dalam landasan filosofis pemikiran sains modern telah mencampakkan konsep ke Tuhanan. Hal-hal yang sifatnya moral dan iman/agama dianggap subjektif dan tidak mempunyai tempat dalam sains.

Dari perfektif Islam, hal ini sungguh berakibat fatal bagi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Manusia yang mempunyai fitrah untuk senantiasa memenuhi kebutuhan ruhaninya dengan cara mengingat Allah sebanyak-banyaknya dan menjaga hubungan vertikal dengan Allah SWT dalam bentuk ibadah ataupun penghambaan, maka ajaran Allahlah yang seharusnya dijadikan kerangka kerja dalam segala aktivitas kita sehari-hari. Bukan “agama materialisme-pragmatisme” yang dijadikan rujukan, seperti yang merasuk dalam peradaban modern sekuler ini. (Bersambung ke bagian 3).

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!