Paradigma Sains: Sekuler ke Arah Sains Qurani (Bagian 1)

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M.Si

448

 KANALJABAR – Topik tulisan ini berangkat dari keprihatinan batin penulis, karena adanya kecendrungan (trend) semakin meningkatnya pengaruh posisi sains Barat sekuler di dunia Islam, khususnya di Indonesia. Tulisan ini, tidak bermaksud pula untuk mendikotonomikan antara sains (ilmu pengetahuan) dan agama. Namun, tidak dinampikkan pula, kecendrungan pengaruh posisi sains Barat sekuler ini semakin kuat.

Kata paradigma dipahami sebagai suatu pandangan dunia. Paradigma bersifat normatif, karena menentukan apa yang harus dilakukan praktisi tanpa harus cukup lama memikirkan segi-segi epistemologis (kriteria bagi suatu ilmu) dan eksistensia (kemampuan memaknai diri sendiri, kemudian untuk mentukan apa yang akan dilakukan.

patomas

Sedangkan terminologi sekulerisme dapat diartikan bersifat keduniaan (worldly), non-agama (irreligious). Oleh karena itu, urusan dunia ini dengan aturan yang bersifat keduniaan (’alamiyyah), bukan dengan syari’ah Allah (transcendental).

Akibatnya, sains Barat menjauhkan nilai-nilai agama, sehingga melahirkan peradaban yang serba materialistik, bersifat empiris, rasionalis, positivis, duniawi, utilitarian, humanistik, pragmatis, dan hedonis. Semuanya itu kering akan nilai-nilai illahi, dan mereka menggantinya dengan apa yang dinamakan materialisme (paham yang mementingkan materi/benda) sebagai agama dan pragmatisme (paham yang melihat akibat kepraktisan/kegunaan dan sifatnya jangka pendek) sebagai way of life (pandangan hidup) .

Dengan dasar inilah, kini sains sekuler telah dijadikan penentu kebenaran, dan dijadikan rujukan yang paling terpercaya untuk melakukan berbagai tindakan baik dalam bidang ekonomi, politik, etika, maupun agama.

Bukan berarti bahwa semua hasil sains dan teknologi Barat sekuler ini tidak baik. Namun persoalan disini, adalah dalam landasan filosofis pemikiran sains Barat modern yang dikembangkan telah mencampakkan konsep ke Tuhanan. Hal-hal yang sifatnya moral dan iman/agama dianggap subjektif dan tidak mempunyai tempat dalam sains Barat. (Bersambung ke bagian 2).

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!