Paradigma Sains: Sekuler ke Arah Sains Qurani (Bagian 5)

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M.Si

247

KANALJABAR – Melanjutkan topik paradigma sains (ilmu pengetahuan) sebelumnya, pada bagian ke 5 (bagian terakhir) ini, bahwa manifestasi dari substansi kebenaran yang bersumber dari pemberian Allah ini, jika digunakan pendekatan kerangka filsafat ilmu disebut dengan pola pikir deduktif, yaitu cara berpikir yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme merupakan salah satu bentuk penyimpulan deduktif yang sering digunakan, baik dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu perbincangan maupun dalam bentuk penelitian-penelitian ilmiah.

Pada kesepatan ini, agar mendapatkan pemahaman tentang pola pikir deduktif yang disebut silogisme itu, maka berikut ini akan saya jelaskan secara singkat. Silogisme itu terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu disebut premis mayor dan premis minor. Kesimpulan atau konklusi diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut.

patomas

Dalam hal ini, kesimpulan yang diambil dikatakan benar, bilamana kedua premis yang digunakan benar dan cara menarik kesimpulannya yang diambil juga benar. Jika salah satu dari ketiga hal ini salah, maka kesimpulan yang diambil juga tidak benar. Dalam konstruksi berpikir demikan, ide dasar yang tertuang dalam Al-Quran dipandang sebagai premis mayor (pemula pemikiran atau dalil, yaitu suatu kebenaran yang tidak diragukan lagi atau sifatnya mutlak) yang diharapkan dapat melahirkan kesimpulan-kesimpulan deduktif. Premis-premis Al-Quran ini dapat ditemukan dengan cara memahami pengertian yang terkandung di dalam wahyu Tuhan tersebut.

Sedangkan premis sekuler berlandaskan pada hal-hal yang bersifat empirikal yang benar, biasa disebut self-evident preposition (ketentuan-ketentuan yang mereka anggap benar), maka tak perlu dibuktikan lagi tentang kebenaran. Dalam hal ini, logika deduktif dengan cara melakukan deduksi dari berbagai teori, untuk menerangkan dan sekaligus meramalkan fenomina-fenomina, dari padanya dialirkan hipotesis-hipotesis (jawaban sementara yang kebenaran perlu diuji kembali) atau dengan membuat perumusan hipotesis. Selanjutnya, melalui logika induktif pada penelitian empirik dilakukan pengujian hipotesis melalui data dari sampel atau pun kasus dengan menggunakan statistik dalam memperoleh kesimpulan. Bila teruji, hipotesis diakui sebagai fakta. Dengan adanya fakta-fakta baru, teori atau pola tadi dapat disempurnakan.

Tetapi, dalam paradigma Islam, Al-Quran dan Al-Hadits merupakan rujukan yang dapat dijadikan premis-premis bagi sains empirikal, kemudian hasil deduksi itu perlu diverifikasi (berdasarkan data-data empirikal) dan diikuti pula dengan validasi kembali oleh nash-nash Al-Quran dan Al-Hadits.

Dengan demikian, kedepan perlu adanya upaya yang terus menerus untuk menghasilkan suatu bangunan sains yang tidak fragmentatif (menceraikan sains dengan nilai). Sehingga pilar filsafat ilmu; ontologi, epistemologis dan aksiologis dalam sains modern akan memiliki keterkaitan secara langsung dengan nilai-nilai dan berada dalam arahan nilai-nilai yang bersumberkan pada Al-Quran dan Hadits. Upaya merekontruksi sains dengan mengintegrasikan dimensi spiritualistik dan materialistik, diharapkan bisa menjadi tawaran untuk membangun sebuah sains yang dari segi epistemologinya lebih bernuansa humanis, moralis, agamis, yang bisa mereduksi dampak negatif dari implementasi sains. (Habis)

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Disclaimer: Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!