Legislator Pertanyakan Ungkapan ‘Ormas Sebagai Makhluk Politik’

73

Jakarta (KANALJABAR) – Badan Legsilasi (Baleg) DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan pengurus Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif, dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (Yappika) terkait penyusunan Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Dalam Rapat yang dipimpin Wakil Ketua Baleg Ibnu Multazam itu, disampaikan usulan-usulan tentang RUU Perkumpulan dalam Prolegnas 2020-2024 dan prioritas 2020.

Yappika sendiri merupakan organisasi nirlaba yang berdiri dan bekerja bersama-sama sebagian masyarakat Indonesia sejak tahun 1991 untuk mendorong kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan publik di antaranya bidang pendidikan dan kesehatan. Yappika bekerja untuk memastikan ada dan terjaganya kebebasan berkumpul dan berpendapat serta mendukung peningkatan kapasitas untuk organisasi nirlaba lainnya

patomas

Dalam kesempatan audiensi itu, Anggota Baleg DPR RI Sodik Mudjahid mengaku merasa sedikit terkejut akan pernyataan yang menyebut bahwa ormas adalah makhluk politik.

“Saya dan juga teman-teman banyak yang menjadi anggota ormas. Tadi (saya) agak kaget juga dan mohon klarifikasi, mengenai pernyataan bahwa ormas itu adalah makhluk politik di dalam pandangan Mendagri,” ucap Sodik dilaman resmi www.dpr.go.id, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Dengan pandangan ormas sebagai makhluk politik, apakah hal itu ada pelanggaran atau tidak, sambungnya.

“Saat ini sudah ada UU Ormas. Jika memang kedudukan hukumnya seperti ini, apakah masih diperlukan Undang-Undang Ormas itu, atau cukup saja Undang-Undang tentang Badan Hukum Perkumpulan,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam paparan yang disampaikan, Yappika mengaku sempat bertanya kepada pihak Kemendagri, apakah ormas itu termasuk makhluk politik atau makhluk hukum? Dan jelas (dijawab pihak Kemendagri) makhluk politik, tetapi bukan partai politik. Cara mendekati dan mengaturnya dengan pendekatan politik dan keamanan.

Dikatakan, ketika berbicara tentang RUU Perkumpulan, bisa saja kita dihadapkan pada kerumitan bagaimana membedakan antara perkumpulan dengan NGO, LSM, ataupun Ormas. Sesungguhnya ada yang memang sebatas istilah praktek ataupun ada juga yang merupakan kerangka hukum yang berlaku sampai dengan hari ini.

Yappika menjelaskan, esensi seseorang untuk berorganisasi adalah menikmati hak asasi manusia yang dilindungi oleh negara dalam konstitusi. Kalau berbicara di sektor sosial, kerangka hukum yang tersedia hanya ada dua, yakni yayasan dan perkumpulan, akan tetapi tidak semua organisasi wajib dan perlu berbadan hukum.

Pada tanggal 2 Juli 2013 lahir Undang-Undang Ormas. UU Ormas tersebut menempatkan seluruh jenis identitas dalam term ormas. Keberadaan ormas dibina oleh sebuah institusi yang ditugaskan melakukan pembinaan politik, yaitu Kementerian Dalam Negeri. Sehingga secara tidak langsung keberadaan sektor sosial didekati dengan cara pandang pendekatan politik dan keamanan.

Editor: A. S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

 

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!