Kemerdekaan Versus Neo Kolonialisme

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M.Si

148

KANALJABAR – Tinggal satu hari lagi saat tulisan ini buat, kita akan sama-sama menyambut dan sekaligus merayakan ulang tahun hari kemerdekaan RI yang ke 74 pada tanggal 17 Agustus 2019. Sebuah momentum memperingati perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Antusias masyarakat pun tak pernah surut baik dikota maupun didesa untuk menyambut hari kemerdekaan itu, yang diekspresikan dengan beragam kegiatan, antara lain mulai dari bakti sosial, olah raga, sampai hiburan.

Tapi, sayang ditengah antusiasme menyambut hari kemerdekaan tersebut, muncul sebuah pertanyaan, akankah aroma merdeka sekedar terhirup dalam ritual tahunan?. Sebatas inikah kita hargai arti sebuah perjuangan para pahlawan? Tentu, pemaknaan arti kemerdekaan tidak lagi seperti itu. Sudah saatnnyalah perlu berubah. Tidak hanya sekedar bersifat serimonial. Sudah tidak tepat lagi. Tidak relevan, kini perlu diartikulasikan dalam konteks kontemporer/kekikinian.

patomas

Memang, sejujurnya secara hakiki kita masih belum merdeka. Betapa penjajahan gaya baru mulai mencengkram bangsa kita. Penjajahan gaya purba/klasik belum berakhir. Hanya pola penjajahan yang berubah. Sekarang polanya tidak ada lagi serbuan militer, dengan todongan senjata, bombadir, kaveleri, infantri dan letusan senjata, Padahal, penjajahan gaya baru itu ternyata lebih berbahaya lagi. Karena gerakannya berjalan sunyi-senyap, kehadirannya tidak diketahui.

Namun gerakannya ini lebih efektif dan efisien. Tahu-tahu negara yang dijadikan target tanpa terasa telah terampas kemerderdekaan dan kedaulatannya. Dalam konteks ini, telah mengingatkan penulis pada pernyataan Bung Karno setengah abad yang lalu  ”Meski kita telah merdeka namun kolonialisme dan imprealisme belum mati”. Jadi penjajahan itu masih ada.

Bung Karno itu benar. Koloniaisme dan imprealisme belum mati dan hari ini telah terjadi, di tengah usia kemerdekaan ke-74, bahkan bentuk penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme dan Imperialiseme) kelihatan sudah semakin nyata dan mulai dominan. Terutama penjajahan dibidang ekonomi mulai terkuasai. Kedaulatan pangan lewat swasembada yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan, kini hanya tinggal slogan belaka. Ironis, Indonesia negeri agragris beriklim tropis dengan curah hujan tinggi, tapi lagi-lagi mengapa sejumlah komoditas pangan strategis masih harus impor beras, jagung, dan kedelai.

Coba bayangkan lagi! Negara Indonesia itu memiliki garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada, tapi apa mau dikata justru mengimpor garam. Itulah paradoks geo-ekonomi bagi Indonesia. Belum kita bertanya “Berapa juta ton emas selama ini tereksploitasi di bumi Papua, namun masih ada warganya belum merasa menikmati dari hasil tambang tersebut. Berapa juta barrel minyak dan gas sudah disedot dari bumi Indonesia, sementara kita malah impor. Ini benar-benar geo-ekonomi kita telah tercaplok. Kedaulatan pangan dan energi bangsa ini sudah porakporanda, karena dengan mudah dikendalikan pihak asing. Itu baru sedikit yang terunngkap diruang yang terbatas ini.

Oleh karena itu, kesadaran pemaknaan arti kemerdekaan yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia saat ini, maka perlu terus ditingkatkan. Perlu terus diopinikan kesadaran rakyat, bahwa kita masih terjajah dengan gaya baru. Tidak kalah pentingnya, juga bangsa ini harus dapat menentukan arah kebijakan dan tujuannya secara mandiri tanpa campur tangan asing.

Memiliki kedaulatan penuh dalam politik, ekonomi dan pangan. Pemaknaan lainnya, bangsa Indonesia harus dibebaskan dari kemiskinan, kebodohan, pengangguran, dan meningkatkan akses pelayanan dasar pendididkan dan kesehatan lebih baik lagi bagi masyarakat, dan mencegah segala sesuatu yang akan mengganggu terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Inilah bentuk perjuangan menuju kemerdekaan yang hakiki.

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!