GESS Indonesia 2019, APSPI: Klaim Alat Peraga Produk Lokal Setara Internasional

354

“Pameran ini sebagai tolak ukur sekaligus pembanding bahwa kualitas alat peraga produksi lokal setara dengan produksi international”

Jakarta (KANALJABAR) – Acara Global Educational Supplies & Solutions (GESS) Indonesia 2019 resmi dibuka di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (18/09/2019) kemarin.

patomas

Acara pameran dan konferensi pendidikan terbesar di Asia Tenggara ini berlangsung selama tiga hari mulai dari 18 hingga 20 September 2019.

Ketua harian Asosiasi Pengusaha Sarana Pendidikan Indonesia (APSPI), Hyldan M mengatakan, acara tersebut bertujuan untuk mendukung program pemerintah di sektor pendidikan.

“Tujua utamnaya untuk mendukung program pemerintah di sektor pendidikan,” kata Hyldan kepada Kanaljabar.com pada saat menghadiri acara pameran dan konfrensi pendidikan itu di Jakarta, Kamis (19/09/2019) sore.

Lanjut dia menambahkan, even tahunan itu akan menghadirkan lebih dari 100 sesi konferensi pendidikan yang dapat membantu pengembangan dunia pendidikan di Indonesia. Salah satu produk lokal yang ikut berpartisipasi dalam acara itu adalah edukasie dari anggota APSPI.

“Dari ratusan produk inovatif penunjang pendidikan yang berasal dari 15 Negara dengan 50 persen produknya berasal dari luar Indonesia. Dan salah satu produk lokal yang ikut berpartisipasi dalam acara ini adalah kami dari APSPI,” ujarnya.

Diakuinya, pameran GESS tahun ini menunjukkan kualitas dari perusahaan international yang berpartisipasi semakin meningkat, terutama dari sisi alat peraga pendidikan dan media pembelajaran.

Sementara itu, produk- produk yang dipamerkan pun semakin mengikuti perkembangan teknologi 4.0 untuk dunia pendidikan seperti AR, VR, dan Interactive Digital Learning lainnya.

Sehingga, edukasie kali ini menjadikan pameran tersebut sebagai tolak ukur dan pembanding dalam kualitas alat peraga produksi Indonesia dengan alat peraga dari luar Indonesia.

“Pameran ini sebagai tolak ukur sekaligus pembanding bahwa kualitas alat peraga produksi lokal setara dengan produksi international,” tandasnya.

Disamping itu, sambung dia, edukasie tersebut juga menunjukan alat peraga baru yang mendukung dan sesuai dengan kurikulum 2013.

“Sebab, beda dengan kurikulum KTSP sebelumnya. Kurikulum 2013 mengubah gaya pembelajaran yang sebelumnya teacher-centrist menjadi student-centrist,” terangnya.

Dengan demikian, alat peraga dan media pembelajaran harus digunakan untuk mengembangkan kompetensi murid di abad 21 dan juga menjadikan murid menjadi aktif dalam pembelajaran.

“Yang mana pengembangan kompetensi abad 21 ini meliputi 4C (critical thinking, creativity, communication, dan collaboration) yang kemudian dapat di tunjukan oleh siswa melalui point Kompetensi Dasar ke 4 yaitu keterampilan,” papar pria berkepala plontos ini.

Hyldan pun berharap, lewat even itu, semoga APSPI semakin solid dan handal dalam membangun hubungan antar pengusaha di dunia pendidikan. Hal itu, semata-mata untuk meraih kesuksesan bersama.

“Dan APSPI semakin profesional, inovatif dan mampu mengikuti perkembangan dunia era digital 4.0 . dalam menciptakan alat bantu pembelajaran, demi mencerdaskan kehidupan bangsa di masa mendatang,” harapnya.

Reporter: Rasum

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!