Birokrasi Pemda: Perlu Learning Organization (Bagian 2)

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M.Si

754

Ciawi, Bogor (KANALJABAR) – Pada bagian artikel ke-1 yang telah dimuat kemaren di Kanaljabar, yang ulasannya sampai pada akan menjelaskan faktor-faktor kendala menerapkan konsep organisasi pembelajaan atau learning organization pada organisasi publik. Namun, pada kesempatan ulasan ke-2 ini, ijinkan saya terlebih dahulu untuk menjelaskan pengertian konsep learning organization/organisai belajar itu.

Dari perkembangan manajemen kontemporer, maka organisasi belajar atau learning organization secara konseptual baru diperkenalkan pada tahun 1990-an, ialah untuk mencari cara yang inovatif menghadapi perubahan dan memenangkan persaingan bisnis. Oleh karena itu, konsep ini muncul dalam konteks perubahan lingkungan organisasi membutuhkan kompetensi dan profesiolitas SDM dan kepemimpinan untuk mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi.

patomas

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini akan diketengahkan pendapat Stephen Robbins (2002), bahwa organisasi belajar diperlukan bagi manajemen untuk mengembangkan kapasitas organisasi secara bersinambungan untuk menyesuaikan diri dan melakukan perubahan. Pada dasarnya semua organisasi itu belajar, baik secara sadar atau tidak sadar, maka itulah persyaratan yang mendasar untuk mempertahankan eksistensi.

Dari pandangan Robbins tersebut, dapat disimpulkan bahwa organisasi belajar sama dengan belajar baik secara individual maupun kolektif secara terus menerus, dalam upaya untuk mentransformasikan dirinya dengan mengoptimalkan potensinya melalui pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kemampuan atau kapasitas para pegawai dan meningkatkan efektifitasorganisasi.

Apalagi lingkungan eksternal atau makro pada saat ini berkembang sangat dinamis, tidak menentu, dan penuh persaingan, karena itu menuntut baik organisasi swasta maupun pemerintah menganut open system (sistem terbuka), yaitu suatu sistem yang mensyaratkan organisasi senantiasa tanggap terhadap tuntutan atau keinginan para stakeholders-nya agar bertumbuh, berkembang dan bertahan. Sebab itu seberapapun unggulnya suatu organisasi tersebut, karena kelengahan sedikit akan dapat membuat organisasi dapat tertinggal. Saat ini, lingkungan organisasi bagaikan “sirkuit balapan mobil” sangat ketat untuk memenangkan pertandingan.  Jadi, suatu organisai tidak bisa menganggap para kompetitornya sebelah mata, Oleh karena itu, organisasi harus terus menerus belajar dan mengembangkan diri agar dapat memenangkan kompetisi atau setidaknya tidak tertinggal dari kompetitor.

Dari pemahaman tentang konsep Learning Organization di atas, maka organisasi pemerintah daerah Kabupaten Bogor perlu mengadopsi konsep organisasi pembelajaan tersebut, agar para apartur sipil negara (ASN) dapat mengembangkan kapasitas atau kemampuannya secara terus-menerus untuk menciptakan dan melaksanakan pelayanan publik yang prima. Sehingga, kedepan diharapkan pelayanan publik dinilai Obusdmant RI tidak lagi masuk kategori “zona kuning” atau zona tidak baik, dan kita ngarep dapat masuk ke zona hijau, pelayanan yang maksimal (bersambung ke bag 3).

Editor: A.S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Disclaimer :

Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!