Angota DPR Baru: Masikah Ada Harapan Baru?

Oleh: Drs. Beddy Iriawan Maksudi M. SI

180

Ciawi, Bogor (KANALJABAR) – Pada bahasan artikel ke-2, sub-tema yang diusung adalah menyoal “Masih Rendahnya Disiplin Anggota Dewan.” Hal ini didasarkan pada realitas, bahwa perilaku angggota DPR masih belum berubah dalam disiplin menjalankan tugas dan fungsi. Bagaimana tidak? Baru sehari menjabat, tepatnya beberapa jam setelah pengucapan sumpah/janji, sudah banyak anggota DPR yang tidak hadir pada rapat paripurna perdana.

Perilaku kurang terpuji ini diperlihatkan dengan angka 50,43 persen yang bolos. Atau yang tidak menghadiri rapat Sidang Perdana yang diselenggarakan sehari setelah pelantikan. Dari fenomina ini, memberikan inspirasi kepada penulis untuk bahan bahasan artikel ke-3 dengan judul sub-tema: Anggota DPR Sebagai Pekerjaan Sampingan.” Sub-tema di atas, sebenarnya merupakan gambaran persepsi publik yang sudah lama ada.

patomas

Bahkan sampai sekarang pun masih demikian. Menjadi anggota DPR dikesankan hanya sebagai pekerjaan sampingan. Ini diakibatkan seringnya publik menyaksikan kehadiran anggota DPR dalam rapat-rapat di komisi, sebagian besar banyak yang absen. Hal ini nampak sekali, ketika suatu Komisi DPR mengadakan rapat dengan instansi pemerintah sebagai mitra kerjanya.

Apa yang kita saksikan? Suatu pemandangan deretan kursi kosong, seperti sering dipublikasikan media massa. Tidak sebatas itu. Anggota Dewan yang hadir pun, sering terlambat. Menyebabkan waktu dimulainya rapat jadi “molor”. Lebih parah lagi, diantara anggota DPR yang hadir ada yang tertidur. Lengkaplah sudah kekecewan publik atas kinerja DPR selama ini periode 2024-2019.

Tentu, gambaran DPR seperti itu mengindikasikan, bahwa pekerjaan DPR dianggap hanyalah pekerjaan sampingan, selain punya pekerjaan di luar tugas sebagai wakil rakyat. Memang, rata-rata mereka sebelum menjadi anggota DPR sudah memiliki beragam profesi tertentu. Namun, harus disadari bahwa ketika sudah masuk dunia partai politik, kemudian ikut kontestasi dan lantas terpilih, maka mereka harus menyesuaikan diri sebagai legislator, dan meninggalkan semua profesi yang sudah digeluti sebelumnya.

Misalnya, anggota DPR baru periode 2019-2024 terdapat 14 orang berprofesi artis. Selain ada yang berprofesi sebagai pengusaha, pengacara dan sebagainya. Sudah seharusnya mereka melepaskan yang menjadi profesi sebelumnya. Karena seorang artis atau profesi lainnya yang menjadi anggota Dewan tentu sudah memiliki tanggungjawab yang berbeda sebagai wakil rakyat.

Jadi, menempatkan tugas sebagai anggota Dewan harus dianggap jauh lebih penting. Karena negara telah memberikan semua fasilitas yang cukup besar, agar dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Jadi, anggota Dewan yang sering bolos, selain merugikan anggaran Negara, juga dapat memberikan kontribusi terhadap rendahnya kinerja DPR selama ini dalam menjalankan fungsinya (fungsi legislasi, budget, dan pengawasan).

Tanpa menafikan ada sebagian anggota Dewan yang telah bekerja keras yang ditunjukkan sejumlah anggota DPR, namun kinerja kelembagaan DPR periode 2014-2019 secara umum masih jauh dari harapan publik Gambaran kondisi DPR periode lama tersebut, sudah semestinya diingat dan dijadikan pelajaran berharga oleh para anggota Dewan yang baru, bahwa tanggung jawab utama mereka saat ini adalah menjadi wakil rakyat. Bukan wakil yang lain.

Inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi angggota Dewan yang baru kedepan. Bagaimana membangun komitmen dengan tenaga, waktu dan pikirannya hanya dicurahkan untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya. (Bersambung ke-bagian 4)

Editor: A. S Nasution

COPYRIGHT © KANALJABAR 2019

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!