7 Langkah Mencuci Hati

142

KANALJABAR – Salah satu fungsi Ramadhan adalah sebagai pencuci hati. Sehingga karenanya ia disebut juga bulan yang di dalamnya terdapat pelajaran tentang Tazkiyatun nafsi. Melalui bulan ramadhan ini  hati kita dicuci hingga lepas dari kesombongan  dan keangkuhan.

Ada dua buah kisah teladan yang nampaknya baik untuk kita renungkan. Dua kisah itu adalah kisah Umar ibn Khattab dan kisah Hatim Al- Ashom. Saya berharap dua kisah ini akan menjadi inspirasi dalam rangka menjalankan ibadah sehari hari.

Hatim al Ashom adalah seorang Sufi. Beliau ahli ibadah.

Dalam sebuah majlis ilmu beliau ditanya oleh imam Ashim bin Yusuf. Ashim bin Yusuf adalah seorang ahli fiqh yang melihat segala sesuatu dari kacamata syari’ah.

Ashim bertanya, : “Tuan, bagaimana cara anda mengerjakan sholat”? HatimAl Ashom sebagai ahli tarekat dan syare’atin menjawab: “Ketika masuk waktu sholat, aku berwudhu dengan dua wudhu. Wudhu lahir dan wudhu batin. Wudhu lahir itu adalah syari’at, dan wudhu batin adalah hakikat.

Baca Juga:   Ridwan Kamil Bakal Buat Program Satu Desa Satu Hafidz Al Quran

Ashim bin Yusuf, sebagai santri yang berkonsentrasi dalam bidang fiqh, kelihatannya terkejut.

Hatim Al Ashom lebih lanjut menjelaskan bahwa wudhu lahir dilakukan dengan cara membersihkan anggota badan dengan air. Sedangkanya wudhu batin itu harus dengan mencuci hati dengan 7 cara:

  1. Hati dicuci dengan rasa penyesalan ( الندا مة)

Yakni menyesali berbagai kesalahan dan menyesali karena meninggalkan kebaikan. Untuk itu kita perlu membaca atau mendengarkan cerita Umar Ibnu Khattab. Umar ibn Khattab dalam sejarah terkenal  sebagai orang kaya yang mempunyai kebun kurma yang sangat luas.

Pohon-pohon kurmanya berbuah dengan subur, kwalitasnya bagus, manis dan legit. Bukan itu saja, bahkan di kebun itu terdapat sumber air. Padahal semua orang sudah maklum bahwa di situ sangat sulit air.

Betapa bahagianya hati Umar ibn Khattab memiliki kebun seluas itum. Saking luasnya kebun itu, menyebabkan beliau terlalu banyak mengkonsentrasikan perhatiannya pada tanah dan perkebunannya. Saat beliau berkeliling keliling, beliau bertemu dengan sahabat sahabat beliau yang katanya baru pulang dari berjama’ah sholat ashar. Mendengar itu Umar kaget sekali seraya mengucapkan Inna Lillahi Wainnaa Ilaihi Raji’uun”.

Baca Juga:   Cabup Purwakarta, H. Aming Minta IRT Kreatif dan Inovatif 

Rupanya Umar ibn Khatab sadar bahwa kesibukannya menyebabkan beliau lupa tidak berjamaah sholat ashar. Sejak saat itu, Umar mengingatkan tanahnya untuk fakir miskin.

Coba sekarang kita pertanyakan pada diri kita. Sudahkah kita seperti itu?

Sudahkah kita mengucapkan Inna Lillahi Wainnaa Ilaihi Raji’uun ? Hanya gara-gara tertinggal berjamaah sholat ashar? Pastinya kita belum seperti itu.

Yang kedua, hati harus dicuci dengan taubat. Sebuah tekad untuk sungguh sungguh tidak akan mengulangi kesalahan itu.

Basuhan ketiga, Hati harus dicuci dengan meninggalkan cinta dunia ( ترك حب الدنيا) Kenapa? Karena Liannahu Ra’su killi khathi’atin. “Karena cinta dunia mengakibatkan kesalahan.

Basuhan keempat, Hati dicuci dengan menjauhkan diri dari Suka kekuasaan ( حب الرياسة)

Karena kekuasaan sering menyebabkan orang semakin sibuk dan karena sibuknya menyebabkan lupa kepada Allah.

Baca Juga:   Ini Visi Misi Calon Kades Pasir Angin, Drs. Herman Sihombing

Basuhan kelima, hati harus dicuci dengan meninggalkan suka dipuji (حب المحمودة). Pujian terkadang bisa menenggelamkan manusia dari ke AKUan nya, karena itulah manusia bisa menjadi sombong.

Basuhan keenam,  sebaiknya hati dicuci dari dendam. Hidup tanpa dendam kepada siapapun. Bila hidup penuh dendam, waktu kita akan habis hanya karena dendam kesana kemari.

Basuhan ketujuh, Hati dicuci dengan.

Hidup terbebas dari rasa hasud.

Hatim memaknai wudhu secara batin. Lalu bagaimana cara beliau sholatnya?

Hatim menjawab lebih lanjut.

“Ketika memulai sholat, beliau merasa ka’bah di depannya”.

“Surga di kanannya”.

“Neraka di kirinya”!

Shirothol Mustaqim di telapak kakinya”. Dan

Izrail telah menunggu di belakangnya”.

Inilah praktik qashrul amal (Pendek angan angannya), yakni semangat yang mampu mendorong untuk beribadah lebih ditingkatkan.

Oleh:
Drs. H. Bahrul Ulum, MPdi
Dewan Pakar PATOMAS Bidang Kajian Agama Islam
Silakan Berkomentar lewat Facebook
error: Content is protected !!